-

Welcome Myspace Comments

About Cosa

Foto Saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Ingin berbagi tentang informasi seputar dunia Pariwisata dan artikel-artikel lain yang mungkin menarik.

Selasa, 09 Desember 2008

DAMPAK NEGATIF TELEVISI

Televisi sebagai salah satu hasil teknologi komunikasi modern
merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang paling berpengaruh.
Jika dibandingkan dengan yang lainnya yakni pers, film, dan radio
memang televisi mempunyai keunggulan dilihat dari dampak televisi
terhadap masyarakat yang semakin lama semakin kuat, baik dampak
positif maupun negatifnya. Dengan sifatnya yang audio-visual,
televisi mempunyai keunggulan dalam menampilkan gambar yang bergerak
( motion picture ) sehingga khalayak pemirsa terlibat secara
emosional dibandingkan dengan hanya melihat gambar mati seperti
terpampang di koran atau di majalah ataupun mendengar suara yang
dihasilkan radio.

Televisi (TV) sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat kita.
Banyak informasi dan hiburan yang bisa didapatkan melalui media audio
visual ini. Makin maraknya TV Swasta membuat masyarakat semakin
dimanjakan dengan berbagai program yang ditayangkan baik dari dalam
maupun luar negeri. Namun sangat disayangkan bahwa perkembangan dunia
pertelevisian Indonesia tidak diimbangi dengan perkembangan kualitas
tayangan yang disuguhkan oleh TV swasta. Program acara ditentukan
dengan tingkat rating pemirsa tanpa melihat dampak yang mungkin
muncul untuk masyarakat sendiri. Program-program tayang seperti;
mistis, kriminal, sinetron, gosip dan acara-acara yang berisikan
kekerasan sempat menjamur dan menjadi konsumsi favorit pemirsanya,
bahkan menurut saya diantaranya adalah tayangan yang bersifat
‘pembodohan’.

Penempatan jam tayang serta pemasangan simbol “17+; BO” dan lain
sebagainya tidak membantu banyak untuk mengurangi dampak acara
tersebut untuk dikonsumsi orang yang belum dewasa, mengingat sebagian
besar masyarakat kita mampu memiliki TV lebih dari satu dan setiap
anggota keluarga memiliki TV sendiri di kamarnya, akan tetapi dengan
keunggulan itu televisi justru sering dijadikan kambing hitam atas
pergeseran budaya kearah budaya barat yang dianggap tidak sesuai
dengan nilai asli bangsa Indonesia. Dengan maraknya acara film,
musik, dan program acara berbau kebarat-baratan, televisi secara
tidak langsung telah mempercepat terjadinya krisis kultural.
Disamping itu televisi juga membawa budaya konsumerisme lewat
iklan-iklan yang dengan sedemikian rupa membangun pencitraan yang
sedemikian hebatnya sehingga masyarakat menganggap bahwa apa yang ada
di televisi adalah apa yang ada di dunia nyata. Mereka sudah tidak
lagi membedakan realitas iklan dengan realitas dunia nyata. Yang
paling memprihatinkan adalah apa yang menimpa anak-anak dimana mereka
sudah tidak dapat melepaskan pandangan dari televisi barang sebentar.
Waktu belajar merekapun dikacaukan oleh tayangan-tayangan televisi.
Secara universal telah disepakati oleh para pakar komunikasi
bahwasannya televisi berfungsi mendifusikan informasi ( to inform ),
mendidik ( to educate ), menghibur ( to entertain ), dan mempengaruhi
( to influence ). Kenyataanya fungsi-fungsi itu tidak diterapkan
seimbang. Yang justru dominan adalah fungsi menghibur yang memang
akan mendatangakan banyak keuntungan dan lebih diminati oleh pemirsa.
Dengan menitik beratkan pada fungsi menghibur inlah maka tayangan
televisi kebanyakan berisi film dan musik yang berbau
kebarat-baratan.

Kekuatan kotak elektronik bernama televisi itu ternyata begitu
luarbiasa merasuk dalam kehidupan kita, Anda, saya dan anak-anak
kita. Televisi, si kotak ajaib yang keberadaanya sudah menjadi bagian
dalam kehidupan sehari-hari, seringkali menimbulkan kecemasan bagi
orangtua yang anaknya masih kecil. Cemas kalau anak jadi malas
belajar karena kebanyakan nonton televisi, cemas kalau anak meniru
kata-kata dan adegan-adegan tertentu, cemas mata anak jadi rusak
[minus], dan cemas anak menjadi lebih agresif karena terpengaruh
banyaknya adegan kekerasan di televisi.

Televisi sebagai media yang memiliki sifat audiovisual mampu
menghadirkan kejadian, peristiwa, atau khayalan-khayalan semata
seperti film laga dari luar negeri [import] yang banyak sekali
mengandung unsur kekerasan, percintaan yang telah banyak menyimpang
dari budaya kita, atau sinetron-sinetron remaja dalam negeri yang
cenderung mengangkat tema kekerasan, sadisme, kebencian, permusuhan,
percintaan, serta gaya hidup menengah ke atas serta mendukung hidup
konsumtif dan hedonisme.

Belum
lagi tayangan mancanegara seperti telenovela atau video klip yang
juga mengandung unsur-unsur pornografi dan pornoaksi, sehingga
anak-anak dibawah umurlah yang paling cepat terpengaruh oleh tayangan
televisi dengan anggapan apa yang disiarkan televisi adalah sebuah
kenyataan dan kebenaran.

Berbagai
tulisan, kertas kerja, dan penelitian bahkan seminar-seminar,
lokakarya, symposium yang ditulis dan dibicarakan oleh para pakar dan
para ahli dibidangnya memperdebatkan dampak negatif yang ditimbulkan
oleh media televisi. Tudingan miring mengenai kebobrokan televisi
sebenarnya sudah merebak sejak kelahirannya pada era tahun 1950.

Konsumen
media televisi tidak hanya para kalangan orang tua, dewasa, remaja,
tetapi juga dari kalangan anak-anak. Yang dikhawatirkan dari kalangan
orang tua adalah anak-anak yang belum mampu membedakan mana yang baik
dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas, karena media
televisi mempunyai daya tiru yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak-anak.

Sayangnya, sampai saat ini, media televisi masih menjadi alternatif
pilihan utama bagi penonton, karena media televisi sebagai media
informasi dan hiburan yang hingga kini masih melahirkan pengaruh yang
baik dan buruk bagi perkembangan psikologis dan peilaku pemirsanya,
termasuk anak-anak.